My Photo
Powered by Friendster Blogs
Member since 04/2006

Photo Albums

May 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
        1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 31

DREAM... DREAM... AND DREAM!!!

1_731527359l WE BELIEVE OUR DREAMS WILL BE COME TRUE...

KEEP DREAM AND FOCUS TO YOUR DREAM!

                            

Andy, Sahabat Yesus

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah bebatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya di mana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan.

Setiap kali berhasil menyeberangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja setiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan. Tindakannya selama ini diamati oleh seorang Pendeta yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

“Bagaimana kabarmu Andy? Apakah kamu akan ke sekolah?”

“Ya, Bapa Pendeta!” Balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati Pendeta tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, “Jangan menyeberang jalan raya sendirian. Setiap kali pulang sekolah kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan menemani kamu ke seberang jalan. Jadi dengan cara tersebut saya bisa memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat.”

“Terima kasih, Bapa Pendeta.”

“Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?”

“Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan… sahabatku.”

Dan Pendeta itu segera meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tapi kemudian Pendeta tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

Andy berkata…

Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya.

Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanyalah kue ini. Terima kasih buat kue ini Tuhan! Aku tadi melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya. Lucunya, aku nggak begitu lapar.

Lihat, ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan. Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa… paling tidak aku tetap dapat pergi ke sekolah.

Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa temanku sudah berhenti sekolah. Tolong bantu mereka supaya bisa sekolah lagi. Tolong Tuhan…

Oh ya, Engkau tahu ibu memukulku lagin karena aku nakal. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.

Tuhan, Engkau mau lihat lukaku? Aku tahu Engkau mampu menyembuhkannya, di sini… di sini… aku rasa Engkau tahu yang ini kan? Tolong jangan marahi Ibuku ya? Dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makanan dan biaya sekolahku… Itulah mengapa dia memukul kami.

Oh Tuhan… Aku rasa aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang cantik di kelasku, namanya Anita. Menurut Engkau apakah dia akan menyukaiku? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku.

Hei… ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu. Aku berharap Engkau akan menyukainya.

Ooops aku harus pergi sekarang.

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil Pendeta itu, “Bapa Pendeta, Bapa Pendeta, aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyeberang jalan sekarang!”

Kegiatan tersebut berlangsung setiap hari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

Pendeta Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Allah… suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, Pendeta Agaton jatuh sakit sehingga dia tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja diserahkan pengelolaannya kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga sering mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Mereka sedang berlutut memegangi rosario mereka ketika Andy tiba dari pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa “Halo Tuhan… Aku…”

“Kurang ajar kamu bocah!!! Tidakkah kamu lihat kami sedang berdoa???!!! keluar…!!!”

Andy begitu terkejut, “Di mana Bapa Pendeta Agaton? Dia seharusnya membantuku menyeberangi jalan raya. Dia selalu menyuruhku mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, ini hari ulang tahun-Nya, aku punya hadiah untuk-Nya…”

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

Sambil membuat tanda salib ia berkata “Keluarlah bocah… kamu akan mendapatkannya!!!”

Oleh karena itu Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyeberangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja.

Dia mulai menyeberang ketika tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang, sebab di situ ada tikungan yang tidak terlihat pandangan.

Andy melindungi hadiah tersebut di dalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut.

Waktunya hanya sedikit untuk menghindar, tapi itu tidaklah cukup…

Dan…

Andy pun tewas tertabrak. Orang-orang di sekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang yang tak bernyawa tersebut.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut namun penuh dengan air mata datang dan memeluk tubuh bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya, “Maaf Tuan, apakah Anda keluarga bocah malang ini? Apakah Anda mengenalnya?”

Pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam segera berdiri dan berkata, “Dia adalah sahabatku.”

Hanya itulah yang dia katakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam baju bocah malang tersebut dan menaruhnya di dadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah malang tersebut dan keduanya kemudian menghilang. Kerumunan orang tersebut semakin penasaran…

Di malam Natal, Pendeta Agaton menerima berita yang sungguh mengejutkan. Dia berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. Pendeta itu bertemu dan bercakap-cakap dengan kedua orang tua Andy.

“Bagaimana Anda mengetahui putera Anda meninggal?”

“Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari.” ucap ibu Andy terisak.

“Apa katanya?”

Ayah Andy berkata, “Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan di keningnya kemudian Dia membisikkan sesuatu…”

“Apa yang dia katakan?”

“Dia berkata kepada puteraku… ‘Terima kasih buat kadonya. Aku akan segera berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku.’”

Dan sang Ayah melanjutkan, “Anda tahu kemudian, semuanya itu terasa begitu indah. Aku menangis tetapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu aku menangis karena bahagia… aku tidak dapat menjelaskannya Bapa Pendeta, tetapi ketika Dia meninggalkan kami ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami. Aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku… Aku tidak dapat melukiskan sukacita di dalam hatiku. Aku tahu puteraku sudah berada di Surga sekarang. Tapi tolong katakan padaku, Bapa Pendeta, siapakah Pria ini yang selalu bicara dengan puteraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena Anda selalu berada di sana setiap hari, kecuali pada waktu puteraku meninggal.”

Pendeta Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes di pipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik, “Dia tidak berbicara dengan siapa-siapa, kecuali dengan Tuhan.”

--diambil dari sites: http://blog.malau.net/2007/07/24/andy-sahabat-yesus/

Aku akan membopongmu setiap hari sampai kita tua

1_672501956lPada hari pernikahanku, aku membopong istriku. Mobil pengantin berhenti di depan flat kami yang cuma berkamar satu. Sahabat-sahabatku menyuruhku untuk membopongnya begitu keluar dari mobil. Jadi kubopong ia memasuki rumah kami. Ia kelihatan malu-malu. Aku adalah seorang pengantin pria yang sangat bahagia. Ini adalah kejadian 10 tahun yang lalu. Hari-hari selanjutnya berlalu demikian simpel seperti secangkir air bening. Kami mempunyai seorang anak, saya terjun ke dunia usaha dan berusaha untuk menghasilkan banyak uang. Begitu kemakmuran meningkat, jalinan kasih di antara kami pun semakin surut. Ia adalah pegawai sipil. Setiap pagi kami berangkat kerja bersama-sama dan sampai di rumah juga pada waktu yang bersamaan.

Anak kami sedang belajar di luar negeri. Perkawinan kami kelihatan bahagia. Tapi ketenangan hidup berubah dipengaruhi oleh perubahan yang tidak kusangka-sangka. Dewi hadir dalam kehidupanku. Waktu itu adalah hari cerah, aku berdiri di balkon dengan Dewi yang sedang merangkulku. Hatiku sekali lagi terbenam dalam aliran cintanya ini adalah apartemen yang kubelikan untuknya. Dewi berkata, “Kamu adalah jenis pria terbaik yang menarik para gadis.”

Kata-katanya tiba-tiba mengingatkanku pada istriku, ketika kami baru menikah, istriku pernah berkata, “Pria sepertimu, begitu sukses, akan menjadi sangat menarik bagi para gadis.” Berpikir tentang itu, aku menjadi ragu-ragu, aku tahu kalau aku telah menghianati istriku. Tapi aku tidak sanggup menghentikannya. Aku melepas tangan Dewi dan berkata, “Kamu harus pergi membeli beberapa perabot, ok? Aku ada sedikit urusan di kantor.” Kelihatan ia jadi tidak senang karena aku telah berjanji menemaninya.

Pada saat tersebut, ide perceraian menjadi semakin jelas di pikiranku walaupun kelihatan tidak mungkin. Bagaimanapun, aku merasa sangat sulit untuk membicarakan hal ini pada istriku. Walau bagaimanapun kujelaskan, ia pasti akan sangat terluka. Sejujurnya, ia adalah seorang istri yang baik. Setiap malam ia sibuk menyiapkan makan malam. Aku duduk santai di depan TV, makan malam akan segera tersedia. Lalu kami akan menonton TV sama-sama atau aku akan menghidupkan komputer, membayangkan tubuh Dewi. Ini adalah hiburan bagiku.

Suatu hari berbicara dalam canda, “Seandainya kita bercerai, apa yang akan kau lakukan?” Ia menatap padaku selama beberapa detik tanpa bersuara. Kenyataannya ia percaya bahwa perceraian adalah sesuatu yang sangat jauh dari bayangannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana ia akan menghadapi kenyataan jika tahu bahwa aku serius.

Ketika istriku mengunjungi kantorku, Dewi baru saja keluar dari ruanganku. Hampir seluruh staff menatap istriku dengan mata penuh simpati dan berusaha untuk menyembunyikan segala sesuatu selama berbicara dengannya. Ia kelihatan sedikit curiga, ia berusaha tersenyum pada bawahan-bawahanku. Tapi aku membaca ada kelukaan di matanya.

Sekali lagi, Dewi berkata padaku, “He Ning, ceraikan ia, ok?, lalu kita akan hidup bersama.” Aku mengangguk. Aku tahu aku tidak boleh ragu-ragu lagi. Ketika malam itu istriku menyiapkan makan malam, kupegang tangannya, “Ada sesuatu yang harus kukatakan.” Ia duduk diam dan makan tanpa bersuara. Sekali lagi aku melihat ada luka di matanya.

Tiba-tiba aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi ia harus tahu kalau aku terus berpikir “aku ingin bercerai”, kuungkapkan topik ini dengan serius tapi tenang. Ia seperti tidak terpengaruh oleh kata-kataku, tapi ia bertanya secara lembut, “Kenapa?”. Aku menghindari pertanyaannya. Jawaban ini membuat ia sangat marah. Ia melemparkan sumpit dan berteriak kepadaku “Kamu bukan laki-laki!”.

Pada malam itu, kami saling membisu. Ia sedang menanggis. Aku tahu kalau ia ingin tahu apa yang telah terjadi dengan perkawinan kami. Tapi aku tidak bisa memberikan jawaban yang memuaskan sebab hatiku telah dibawa pergi oleh Dewi. Dengan perasaan yang amat bersalah, aku menuliskan surat perceraian di mana istriku memperoleh rumah, mobil dan 30% saham dari perusahaanku. Ia memandangnya sekilas dan mengoyaknya jadi beberapa bagian. Aku merasakan sakit dalam hati.

Wanita yang telah 10 tahun hidup bersamaku sekarang menjadi seorang yang asing dalam hidupku. Tapi aku tidak bisa mengembalikan apa yang telah kuucapkan. Akhirnya ia menangis dengan keras di depanku, di mana hal tersebut tidak pernah kulihat sebelumnya. Bagiku tangisannya merupakan suatu pembebasan untukku. Ide perceraian telah menghantuiku dalam beberapa minggu ini dan sekarang sungguh-sungguh telah terjadi.

Pada larut malam, aku kembali ke rumah setelah menemui klienku. Aku melihat ia sedang menulis sesuatu. Karena capek aku segera ketiduran. Ketika aku terbangun tengah malam, aku melihat ia masih menulis. Aku tertidur kembali. Ia menuliskan syarat-syarat dari perceraiannya, ia tidak menginginkan apapun dariku, tapi aku harus memberikan waktu sebulan sebelum menceraikannya, dan dalam waktu sebulan itu kami harus hidup bersama seperti biasanya.

Alasannya sangat sederhana, anak kami akan segera menyelesaikan pendidikannya dan liburannya adalah sebulan lagi dan ia tidak ingin anak kami melihat kehancuran rumah tangga kami. Ia menyerahkan persyaratan tersebut dan bertanya, “Hei Ning, apakah kamu masih ingat bagaimana aku memasuki rumah kita ketika pada hari pernikahan kita?”

Pertanyaan ini tiba-tiba mengembalikan beberapa kenangan indah kepadaku. Aku mengangguk dan mengiyakan. “Kamu membopongku di lenganmu”, katanya, “Jadi aku punya sebuah permintaan yaitu kamu akan tetap membopongku pada waktu perceraian kita. Dari sekarang sampai akhir bulan ini, setiap pagi kamu harus membopongku keluar dari kamar tidur ke pintu.” Aku menerima dengan senyum. Aku tahu ia merindukan beberapa kenangan indah yang telah berlalu dan berharap perkawinannya diakhiri dengan suasana romantis. Aku memberitahu Dewi soal syarat-syarat perceraian dari istriku. Ia tertawa keras dan berpikir itu tidak ada gunanya. “Bagaimanapun trik yang ia lakukan, ia harus menghadapi hasil dari perceraian ini.”, ia mencemooh.

Kata-katanya membuatku merasa tidak enak. Istriku dan aku tidak mengadakan kontak badan lagi sejak kukatakan perceraian itu. Kami saling menganggap orang asing. Jadi ketika aku membopongnya di hari pertama, kami kelihatan salah tingkah. Anak kami menepuk punggung kami, “Wah, papa membopong mama, mesra sekali!” Kata-katanya membuatku merasa sakit. Dari kamar tidur ke ruang duduk, lalu ke pintu, aku berjalan 10 meter dengan ia dalam lenganku. Ia memejamkan mata dan berkata dengan lembut, “Mari kita mulai hari ini, jangan memberitahukan pada anak kita.” Aku mengangguk, merasa sedikit bimbang, aku melepaskan ia di pintu. Ia pergi menunggu bus dan aku pergi ke kantor.

Pada hari kedua, bagi kami terasa lebih mudah. Ia merebah di dadaku, kami begitu dekat sampai-sampai aku bisa mencium wangi di bajunya. Aku menyadari bahwa aku telah sangat lama tidak melihat dengan mesra wanita ini. Aku melihat bahwa ia tidak muda lagi. Beberapa kerut tampak di wajahnya. Pada hari ketiga, ia berbisik kepadaku “Kebun di luar sedang dibongkar. Hati-hati kalau kamu lewat sana.” Hari keempat, ketika aku membangunkannya, aku merasa kalau kami masih mesra seperti sepasang suami istri dan aku masih membopong kekasihku di lenganku.

Bayangan Dewi menjadi samar. Pada hari kelima dan keenam, ia masih mengingatkan aku beberapa hal, seperti di mana ia telah menyimpan baju-bajuku yang telah ia setrika, aku harus hati-hati saat memasak dan lain-lain. Aku mengangguk. Perasaan kedekatan terasa semakin erat. Aku tidak memberitahu Dewi tentang ini. Aku merasa begitu ringan membopongnya. Berharap setiap hari pergi ke kantor bisa membuatku semakin kuat. Aku berkata padanya, “Kelihatannya tidaklah sulit membopongmu sekarang…” Ia sedang mencoba pakaiannya, aku sedang menunggu untuk membopongnya keluar. Ia berusaha mencoba beberapa tapi tidak bisa menemukan yang cocok. Lalu ia melihat “Semua pakaianku kebesaran…”, Aku tersenyum.

Tapi tiba-tiba aku menyadarinya sebab ia semakin kurus itu sebabnya aku bisa membopongnya dengan ringan, bukan disebabkan aku semakin kuat. Aku tahu ia mengubur semua kesedihannya dalam hati. Sekali lagi aku merasakan perasaan sakit. Tanpa sadar kusentuh kepalanya. Anak kami masuk pada saat itu. “Pa, sudah waktunya membopong mama keluar…” Baginya, melihat papanya sedang membopong mamanya keluar menjadi bagian penting. Ia memberikan isyarat agar anak kami mendekatinya dan merangkulnya dengan erat. Aku membalikkan wajah sebab aku takut akan berubah pikiran pada detik terakhir. Aku menyangganya di lenganku, berjalan dari kamar tidur, melewati ruang duduk di teras. Tangannya memegangku secara lembut dan alami. Aku menyanggah badannya dengan kuat seperti kami kembali ke hari pernikahan kami. Tapi ia kelihatan agak pucat dan kurus, membuatku sedih.

Pada hari terakhir, ketika aku membopongnya di lenganku, aku melangkah dengan berat. Anak kami telah pergi ke sekolah. Ia berkata “Sesungguhnya aku berharap kamu akan membopongku sampai tua…” Aku memeluknya dengan kuat dan berkata “Antara kita saling tidak menyadari bahwa kehidupan kita begitu mesra.”

Aku melompat turun dari mobil. Aku takut keterlambatan akan membuat pikiranku berubah. Aku menaiki tangga. Dewi membuka pintu. Aku berkata demikian, “Maaf Dewi, aku tidak ingin bercerai. Aku serius!” Ia melihat kepadaku, kaget. Ia menyentuh dahiku “Kamu tidak demam, kan?”. Kutepiskan tangannya dari dahiku. “Maaf Dewi, aku cuma bisa bilang maaf padamu, aku tidak ingin bercerai. Kehidupan rumah tanggaku membosanku disebabkan ia dan aku tidak bisa merasakan nilai-nilai dari kehidupan, bukan disebabkan tidak saling mencintai lagi”. “Sekarang aku mengerti sejak aku membopongnya masuk ke rumahku, ia telah melahirkan anakku. Aku akan menjaganya sampai tua. Jadi aku minta maaf padamu.” Dewi tiba-tiba tersadar. Ia memberikan tamparan keras kepadaku dan menutup pintu dengan kencang dan tangisannya meledak.

Aku menuruni tangga dan pergi ke kantor. Dalam perjalanan aku melewati sebuah toko bunga, kupesan sebuah buket bunga kesayangan istriku. Penjual bertanya apa yang mesti ia tulis dalam kartu ucapan? Aku tersenyum dan menulis “Aku akan membopongmu setiap pagi sampai kita tua…”

----diambil dari sites: http://blog.malau.net/2007/06/15/aku-akan-membopongmu-setiap-pagi-sampai-kita-tua/ :)

TEKA-TEKI LUCU???

Liat aja di:

http://www.malau.net/2007-09-18/teka-teki-lucu/

STEP BY STEP

Kesuksesan adalah sebuah petualangan menapaki tangga kehidupan, langkah demi langkah, ada yang cepat dan ada yang lambat.

Dalam setiap langkah ada tangan TUHAN yang selalu menopang kita, ketika kita percaya akan DIA, kesuksesan itu sudah ada di depan mata.

Ada sebuah kata pendek yang saya baca dari stiker sepeda motor:
IMPOSIBLE IS NOTHING

HOPEFULLY

GOD's answer of our pray need time to be...


be still, keep pray, keep trust in HIM..
Pray   

JanjiMU Sperti Fajar Pagi Hari

BAPA, terima kasih untuk setiap janji yang ENGKAU telah berikan kepadaku...
Janji yang telah aku tunggu selama hampir 7 tahun semenjak aku mengenal dia...
Untuk waktu-waktu ke depan ini, masa-masa pengenalan ini ketika aku boleh belajar tentang bagaimana menyayangi seseorang dengan tulus dan silakan ENGKAU yang mengaturnya dalam hidupku...

Bila saatnya tiba, itu semua merupakan suatu anugerah dari ENGKAU...
BAPA... Ketika aku belajar untuk menunggu, ENGKAU mengajarkan banyak hal kepadaku tentang apa arti kehidupan dan terlebih tentang iman dan kesetiaan, bahkan ketika aku jatuh-bangun...
Ketika ENGKAU mulai menyatakan waktuMU, ENGKAU yang ajarkan kepadaku bagaimana untuk bisa menyayangi dia dengan sepenuh hati...


BAPA, terima kasih untuk semuanya...

GIVE THANKS

TUHAN, sepanjang hidupku ada banyak hal yang aku tidak pernah ngerti. Dalam banyak hal, ENGKAU menuntun aku sampai perjalanan hidup saat ini. Bukan hal yang mudah TUHAN untuk aku belajar melangkah dalam hidup ini di tempat yang baru tanpa ada famili, tetapi sebagai pengganti famili ada temen-temen kost yang jadi keluarga di Jakarta.
Aku ndak pernah berkekurangan, bahkan berlebihan. Tapi satu hal yang menjadi pertanyaanku, "KENAPA KADANG KOK AKU TIDAK BISA BERSYUKUR?" He..he..he.. TUHAN, karena 'satu' masalah inilah yang buat aku kadang ndak bisa bersyukur, yah...yang namanya nunggu janji itu kadang sulit baget, walaupun janji itu dari BIG BOSS.
TUHAN, ajarku untuk bisa bersyukur dalam banyak hal...
Sebab untuk itulah aku diciptakan!!!

WORK...WORK...WORK...

Kuliah cepet lulus, nilei bagus tidak menjamin seseorang akan beruntung ketika berada di dunia sesungguhnya, yaitu dunia kerja.

Pertama kali kerja, aku kira apa yang selama ini aku pelajari dapat langsung aku aplikasikan di dunia kerja, tetapi beda! dan
BEDA dari apa yang aku bayangkan. Yah, yang namanya kerja sama orang lain, kita harus bisa belajar profile dari perusahaan itu dan belajar dari senior-senior, kita harus mulai dari bawah lagi men!!!!

Pertama memang agak gengsi dan gimana gitu... tetapi emang bener, orang yang pengalaman itu lebih menang daripada seorang yang paling pinter  sekalipun.

Selama hidup di dunia, kita harus selalu mau belajar dan belajar, seperti ilustrasi tentang gelas yang berisi air cuman separo. Ada orang yang memandang yah... airnya dah keisi separo, percuma ditambahi lagi, tunggu aja sampe ada kesempatan lain lagi. Tetapi ada orang lain yang memandang dengan sudut pandang yang lain, 'aha... gelasnya masih kosong separo, masih ada kesempatan buat aku mengerjakan sesuatu semampuku di atas air yang separo itu! Walupun aku tidak mengawalinya, tetapi masih ada kesempatan buat aku berkarya di atas air yang separo itu!'

Yah, berkarya...berkarya...dan berkarya semampu kita dan semaksimal kita.... Dan terus mau belajar dan diajar!!!

Tapi jangan lupa, belajar mengandalkan YANG MENCIPTA KITA!!!

First Week on Plaza BII 2nd Tower

Yeah... pengalaman yang ndak terduga men!!!!

Tuhan kasih anugerah yang begitu luar biasa buat ku. Hari pertama, kedua... sampe hari ke lima bener-bener pengalaman yang indah banget.

Aku berangkat kerja jam 7.15an, nyampe kantor jam8an terus kerja bantu-bantuin senior. Pas minggu ini seniorku lagi pooooo....ssssing kepala, soalnya ada deadline program dari divisi BC (apa itu aku lupa singkatannya he..he..he..) pulang kerja minimal jam 5.30malem, tapi biasanya jam 6.30an malem...

Tiap berangkat kerja dan pulang tok-wak (alias jalan kaki, ya sama program ngecilin perut he..he..he..).

Temen-temen, satu hal yang aku belajar, adalah bahwa ada sesuatu yang indah dibalik kesabaran dan kesetiaan untuk menunggu waktunya TUHAN dalam segala sesuatu, walaupun menunggu itu adalah pekerjaan yang paling menjemukan...

Yah... sama-sama belajar lah, ok?

GBU!!!

JAKARTA, WELCOME!!!!

Makasih GOD, akhirnya aku kerja juga di PT SMART!!!

Hari ini tanggal 1 April nyampe jakarta di tempat kerjane Danang jam 4 pagi. Badan capek banget, tapi seneng juga. Tanggal 2 April 2007 besok adalah hari pertama kerjaku. Bener2 ndak nyangka, dapet kerjaan yang sesuai bidang. Yah... pengin bisa belajar loyal di sini.

Ciayo!!!

.............i think..........................

Aku ndak ngira lho nek sekarang ini dah isa ketrima di PT SMART,tbk sebagai seorang IT Developer. Ndak nyangka banget. Dulu pas aku ditawari sama Irma (bukan nama samaran he..he..he..) ikut bursa kerja di Kampus UKSW Salatiga, aku nolak mentah-mentah, karena dah ada kerjaan laen yang aku lebih prefer.

Eh, dia maksa-maksa, ya wis aku coba dateng dan mubazir juga lah umpama ndak coba-coba nglamar. He..he..he.. aku coba nglamar di PT SMART, tbk (SINAR MAS GROUP). Dan tanggal 22 Januari 2007 kemaren sempet test di UNIKA SUGIYO PRANOTO Semarang. Katane sih panggilanne paling lambat tanggal 22 Februari, tak tunggu-tunggu kok ndak ada panggilan. Ya wis, tak kira lepas.

Eh.... ternyata kemaren, tanggal 6 Maret 2007 jam 9an pagi aku ditelpon, kalo tgl7Maret ini suru wawancara... Aku suuuueee....nnneng e minta ampun, ndak nyangka. Dan satu hal yang aku hampir ndak percaya juga, TUHAN kasih aku posisi yang aku senengi, yaitu sebagai IT Programmer!!!!

Wow, itu suatu annnnuuu......gggrah banget bagi aku!!! Thanks GOD!!!!

Anugerah yang kadang ndak disadari

Kerap kali dalam kehidupan ini, kita hanya melihat terus menerus kepada permasalahan-permasalahan hidup kita, dan kurang untuk melihat kepada setiap berkat yang telah TUHAN kasih ke kita...

Permasalahan memang ada dan memang harus ada, tetapi di samping permasalahan TUHAN juga kasih kepada kita berkat-berkat yang ndak pernah terkira. Begitu bodohnya kita ketika kita menjadi suntuk banget karena setiap masalah demi masalah yang kita hadapi, bahkan depresi seperti yang aku alami...

Sering keluar dalam benakku, di mana sih TUHAN yang sayang dan cinta sama aku itu? Pertanyaan bodoh yang sering keluar dari mulutku...

Kasih yang TUHAN ajarkan lewat kita merupakan kasih yang tulus... tapi, TUHAN juga pernah berkata hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, jadi, bukan hanya tulus, tapi juga pake hikmat, sehingga kita ndak mati kutu...

Aku lagi belajar untuk bersikap bijaksana dalam menyikapi setiap permasalahan yang datang silih berganti dalam hidupku bersama BIG BABE di sorga...

Thanks GOD!!!

Hai temen-temen semua...

Bersyukur banget aku dah melewati hampir 2 bulan masa trainingku di Bank Danamon yang letaknya di kampus Danamon Ciawi Bogor... yah...2bulan kurang 11hari lah...

Banyak pelajaran berharga yang aku dapatkan, terlebih-lebih masalah hidup yang berbagi dengan temen-temen dan kerjasama dalam satu tim. Pada awalnya aku ndak pernah bisa untuk kerja sama, aku lebih seneng belajar sendiri... eh, tapi setelah dipaksa-paksa belajar sendiri (financial statement, spreading, cash flow, dan forecasting) aku jadi stress sendiri, karena sulit banget, yah... itu kesombongan yang telah melekat dalam hatiku selama ini, yaitu aku ndak mau tanya sama orang, dan lebih seneng untuk belajar sendiri (mungkin takut kecolongan ilmu ya... he..he..he.. tapi sering nyolong ilmu juga).

Aku juga sangat bersyukur banget karena di sini ada temen-temen yang saling dukung satu sama lain, kalau ndak ya aku mesti ndak akan pernah mampu. Yah...TUHAN itu bae....ek banget, walaupun kadang aku ndak pernah isa ngliat kebaikan TUHAN pas lagi hari-hari pelajaran yang sulit he..he..he..

Besok tanggal 27 Januari 2007 aku dah mulai ON THE JOB TRAINING di bank DANAMON Pemuda Semarang, cari nasabah... DOAIN YA PRENS SEMUA!!!

Rasanya rindu banget untuk pulang ke salatiga ketemu sama temen-temen di sana.... Semoga ae isa!!!

Ayo temen-temen yang belum dapet kerja, tetep semangat buat 'BERBURU KERJA', jangan pernah patah semangat, OK????

GOD BLESS YOU ALL!!!

I know it!!!

APA YANG TAK PERNAH TIMBUL DALAM HATI
APA YANG TAK PERNAH TIMBUL DALAM PIKIRAN
ITULAH YANG DISEDIAKAN TUHAN BAGI DIA YANG MENGASIHINYA...

IT'S THE TIME!!!

Yeah.....

Akhirnya aku bisa belajar banyak hal di Danamon, dan besok tanggal 3 November 2006 aku Training ke Ciawi dengan sekitar 70an temen-temen yang lain dari region-region danamon di Indonesia...

Suatu anugerah yang indah yang TUHAN kasih...

Satu hal yang aku belajar, bahwa dalam apapun yang kita alami, semuanya ada dalam kehendak dan rencana TUHAN (walaupun kita anggap semuanya aneh dan tidak masuk akal, bahkan menyakitkan bagi kita), yang pada akhirnya akan mendatangkan kemuliaan bagi nama TUHAN!!!!

Ok Ciawi, I'm commin' with the grace of the LORD JESUS CHRIST!!!!


Ayo temen-temen yang lain, pada semangat!!!! GOD BE WITH US!!!

Jdchallengerhorsespiritnight

my first day on second week in Commercial Danamon Semarang-Pemuda

GOD kok apa yang aku pernah dapet dari ENGKAU ndak seperti kenyataan yang aku hadapi ya??? Ternyata pikiranku beda sama apa yang ENGKAU rencanakan buat aku...

Aku pernah berpikir, bahwa ketika aku nanti masuk ke Danamon sebagaimana yang ENGKAU telah arahkan, aku akan belajar dengan ada orang yang membimbing pelan-pelan, tetapi mulai hari pertama aku sepertine di jarke ae, kerja apapun terserah kamu...

GOD, mungkin satu yang jadi beban buat aku, yaitu: masak aku kerja asal-asalan, dan bahkan ndak ngasilkan apa-apa buat Danamon, tetapi kok aku dapet bayaran? Buat aku itu beban mental banget...

GOD, please help me to find what YOU want for me to do now... Please tell me what YOUR plans now with it...

GOD, jujur secara manusiawi ya aku pengin keluar dari Danamon, mendingan aku hidup dengan planning-planningku yang dulu...

Tapi...

....
....
....
....
????

Aku bingung juga GOD...

My sixth's day on Commercial Bank Danamon Semarang

Hem... ternyata hal yang sulit banget untuk ngendalikan diri berhemat, sehingga uangnya bisa ditabung untuk hal-hal laen yang lebih mendesak/ lebih perlu

Aku orangnya jadi boooooooooooo..................ooooooros banget minggu ini =(

My Second Day As A Sales Anchor of Commercial Danamon

Hari kedua aku on the job training di Commercial sebagai Sales Anchor sama seperti hari pertama kerja, masih belajar-belajar dan baca-baca buku tentang kebijaksanaan perkreditan. Agak sulit buat aku isa ngerti tentang ilmu ekonomi perbankan, yah... percaya aja deh BIG BOSS di Sorga bakal ngajari...

Insight

Aku bersyukur banget dapet sesuatu yang baru, bahwa ketika kita berada di padang gurun yang luas.......ssss banget, tanpa ada apapun yang bisa kita harapkan, tetapi kita masih bisa lihat jalan di depan (walaupun hanya gurun pasir saja he..he..he..) itu karena apa?

Ya... itu karena ada cahaya matahari yang terus menerus menyinari. Ya, sinar matahari itu adalah bukti dari BABE yang ndak pernah sedetikpun ninggalin kita sendirian di dalam perjalanan kita di dunia ini...

Semoga semua blogs ku bisa jadi berkat bagi temen-temen lain yang lagi ngalami hal yang sama juga. Dan satu hal, jangan pernah ngomel sama TUHAN =P kayak aku dulu ha..ha...ha..!!!